Penerbitan Obligasi Korporasi Catat Pertumbuhan Signifikan Hingga Rp 284,3 Triliun

Rabu, 11 Februari 2026 | 15:35:11 WIB
Penerbitan Obligasi Korporasi Catat Pertumbuhan Signifikan Hingga Rp 284,3 Triliun

JAKARTA - Pasar surat utang korporasi Indonesia mencatat pertumbuhan luar biasa sepanjang 2025. 

Penerbitan obligasi dan sukuk mencapai Rp 284,3 triliun, melonjak 89,87% dibandingkan tahun sebelumnya. Rekor ini menjadi tonggak tertinggi sepanjang sejarah pasar obligasi korporasi di tanah air.

Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menjelaskan lonjakan ini dipicu beberapa faktor utama. Pertama, tingginya kebutuhan perusahaan untuk melakukan refinancing. Kedua, biaya dana yang relatif lebih murah dibandingkan pinjaman bank dan meningkatnya kebutuhan modal kerja serta investasi jangka panjang perusahaan.

Suhindarto menambahkan, faktor satu kali atau one-off dari Patriot Bond Danantara turut memberikan kontribusi signifikan. Lonjakan ini menunjukkan fleksibilitas instrumen obligasi sebagai alternatif pendanaan perusahaan. “Selain itu, (faktor pendorong) yang terakhir mungkin adalah one-off factor dari Patriot Bond Danantara itu sendiri,” ujarnya.

Jenis Instrumen dan Lonjakan MTN

Dari sisi instrumen, obligasi korporasi dan sukuk menjadi yang paling dominan. Nilainya tercatat sebesar Rp 219,1 triliun, naik 48,39% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menegaskan preferensi pasar terhadap instrumen jangka menengah dan panjang.

Segmen medium term notes (MTN) mengalami pertumbuhan paling tajam. Penerbitan MTN melonjak dari Rp 1,5 triliun pada 2024 menjadi Rp 62,7 triliun di 2025, meningkat lebih dari 4.000% YoY. Angka ini menunjukkan MTN semakin diminati sebagai instrumen fleksibel untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dan pendanaan.

Selain itu, penerbitan sekuritisasi dan surat berharga komersial (SBK) juga mengalami kenaikan signifikan. Nilainya mencapai Rp 2,5 triliun, naik 359,65% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memperlihatkan diversifikasi instrumen yang semakin berkembang di pasar obligasi korporasi Indonesia.

Pertumbuhan Outstanding Obligasi dan Sukuk

Nilai outstanding obligasi dan sukuk korporasi terus meningkat sepanjang tahun. Pada akhir 2025, posisi outstanding mencapai Rp 555,7 triliun. Tren kenaikan ini menandakan kepercayaan investor terhadap stabilitas dan likuiditas pasar surat utang korporasi.

Outstanding MTN juga menunjukkan tren positif, tercatat sebesar Rp 87,4 triliun. Pertumbuhan ini konsisten dengan peningkatan penerbitan baru dan memperkuat posisi MTN sebagai pilihan instrumen untuk pendanaan jangka menengah. Investor mendapatkan peluang diversifikasi portofolio melalui obligasi jangka menengah dan panjang.

Suhindarto menekankan, pertumbuhan outstanding ini juga mencerminkan strategi perusahaan dalam mengamankan pendanaan jangka panjang. 

Perusahaan semakin memanfaatkan obligasi sebagai sarana stabil untuk mendukung ekspansi bisnis. Struktur pasar yang semakin matang memungkinkan investor memperoleh imbal hasil lebih terukur dan risiko yang dapat dikendalikan.

Komposisi Penerbit: Swasta dan BUMN

Kelompok swasta mendominasi penerbitan surat utang korporasi, tetapi penerbitan BUMN tetap signifikan. Sepanjang 2025, swasta menerbitkan obligasi senilai Rp 146,8 triliun. Sementara BUMN group mencapai Rp 137,5 triliun, menunjukkan keseimbangan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Suhindarto mengungkapkan bahwa komposisi penerbit relatif berimbang. “Kalau dilihat dari komposisi jenis perusahaannya, yang banyak menerbitkan di tahun lalu 2025 ini agak relatif berimbang ya setelah sebelumnya memang sangat timpang antara swasta dengan grup BUMN,” jelasnya. 

Dominasi swasta menunjukkan peran perusahaan non-pemerintah dalam mendorong likuiditas pasar surat utang.

Keberagaman penerbit juga memperluas pilihan instrumen bagi investor. Investor dapat memilih obligasi sesuai profil risiko, tenor, dan imbal hasil yang diinginkan. Kondisi ini semakin memperkuat pasar obligasi sebagai alternatif pembiayaan yang andal.

Penggunaan Dana dan Tujuan Penerbitan

Mayoritas dana obligasi dialokasikan untuk modal kerja, investasi, dan refinancing. Nilai penerbitan untuk modal kerja meningkat dari Rp 95,41 triliun pada 2024 menjadi Rp 135,76 triliun. Alokasi ini membantu perusahaan menjaga kelancaran operasional dan mendukung pertumbuhan bisnis.

Investasi jangka panjang juga meningkat signifikan, dari Rp 11,19 triliun menjadi Rp 83,48 triliun. Peningkatan ini mencerminkan fokus perusahaan pada ekspansi dan modernisasi aset. 

Sementara itu, refinancing tumbuh dari Rp 39,49 triliun menjadi Rp 64,85 triliun, memungkinkan perusahaan mengoptimalkan struktur utang dan mengurangi biaya bunga.

Strategi penggunaan dana ini mendukung keberlanjutan bisnis perusahaan sekaligus memperkuat fundamental pasar obligasi. Investor mendapatkan kepastian bahwa dana yang dihimpun akan digunakan untuk tujuan produktif. Kombinasi modal kerja, investasi, dan refinancing menciptakan ekosistem pasar surat utang yang sehat dan berkelanjutan.

Prospek Pasar Obligasi Korporasi 2026

Pertumbuhan penerbitan obligasi dan sukuk korporasi sepanjang 2025 menjadi dasar optimisme untuk 2026. Instrumen jangka menengah dan campuran diprediksi tetap diminati. Investor dan perusahaan diharapkan memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat portofolio dan likuiditas.

Dengan diversifikasi instrumen dan penerbit yang lebih seimbang, pasar obligasi semakin matang. Perusahaan dapat menyesuaikan tenor, jenis obligasi, dan tujuan penggunaan dana sesuai kebutuhan. Sementara investor memperoleh peluang imbal hasil yang menarik sekaligus risiko lebih terkendali.

Lonjakan penerbitan obligasi juga menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi. Instrumen obligasi korporasi berfungsi sebagai mekanisme pembiayaan alternatif yang efektif. Prospek pasar surat utang korporasi di 2026 diperkirakan tetap positif dengan peluang pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Terkini