Permintaan Global Meningkat, Harga Batu Bara Kembali Menguat Tajam

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:11:18 WIB
Permintaan Global Meningkat, Harga Batu Bara Kembali Menguat Tajam

JAKARTA - Pasar batu bara kembali menunjukkan geliat positif seiring meningkatnya aktivitas energi di sejumlah negara besar. 

Mayoritas harga batu bara tercatat menguat di berbagai bursa utama dunia. Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan kapasitas pembangkit listrik tenaga uap di China dan dukungan pemerintah Amerika Serikat terhadap sektor tersebut.

Harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 tercatat turun US$ 0,25 ke level US$ 116,8 per ton. Sementara itu, kontrak Maret 2026 melejit US$ 1,1 menjadi US$ 122,15 per ton. Untuk April 2026, harga terkerek US$ 1,45 menjadi US$ 122,5 per ton.

Pergerakan harga tersebut mencerminkan dinamika permintaan jangka pendek dan ekspektasi pasar ke depan. Fluktuasi pada kontrak Februari tidak menghalangi tren penguatan pada bulan berikutnya. Hal ini menandakan optimisme pelaku pasar terhadap prospek konsumsi batu bara.

Penguatan Harga di Pasar Eropa

Di pasar Eropa, harga batu bara Rotterdam juga menunjukkan penguatan. Untuk Februari 2026, harga menguat US$ 1,65 menjadi US$ 107,25 per ton. Kontrak Maret 2026 naik US$ 2,1 menjadi US$ 110 per ton.

Adapun pada April 2026, harga terkerek US$ 2,6 menjadi US$ 109,7 per ton. Kenaikan ini memperlihatkan sentimen positif yang relatif merata di berbagai kawasan. Pasar merespons kombinasi faktor permintaan dan kebijakan energi global.

Kenaikan harga batu bara mendekati level tertinggi dalam setahun terakhir. Kondisi ini terjadi seiring ekspektasi bahwa permintaan tetap kuat meski dunia bergerak menuju energi yang lebih bersih dalam jangka panjang. Batu bara masih memainkan peran signifikan dalam bauran energi global.

Ekspansi Besar Kapasitas Batu Bara China

China sebagai produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia kembali menjadi faktor utama penggerak pasar. Sepanjang 2025, negara tersebut menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara sebesar 78 gigawatt. Angka itu menjadi penambahan tahunan terbesar dalam satu dekade terakhir.

Ekspansi tersebut mempertegas fokus Beijing pada keamanan energi dan stabilitas jaringan listrik nasional. Kebutuhan menjaga pasokan saat periode permintaan puncak menjadi pertimbangan utama. Langkah ini ditempuh meskipun kapasitas pembangkit energi nonfosil untuk pertama kalinya telah melampaui kapasitas berbasis bahan bakar fosil.

China saat ini masih memiliki armada pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di dunia. Negara tersebut menyumbang sekitar 71% dari total kapasitas pembangkit batu bara global yang sedang dalam tahap pengembangan. Dominasi ini memperkuat pengaruh China terhadap keseimbangan pasar batu bara internasional.

Kebijakan ekspansi kapasitas tersebut mencerminkan strategi ganda antara transisi energi dan jaminan pasokan. Di satu sisi, pengembangan energi terbarukan terus berjalan. Namun di sisi lain, batu bara tetap dipertahankan sebagai penopang utama stabilitas sistem kelistrikan.

Dukungan Kebijakan Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, kebijakan pemerintah turut memberi sentimen positif terhadap pasar batu bara. Presiden Donald Trump mengambil langkah untuk mendukung sektor pembangkit listrik tenaga batu bara yang tengah menghadapi tekanan. Kebijakan tersebut menjadi sinyal kuat bagi pelaku industri energi.

Pemerintah mengalokasikan dana federal sebesar US$ 175 juta untuk memodernisasi enam pembangkit listrik tenaga batu bara. Modernisasi ini bertujuan meningkatkan efisiensi dan memperpanjang usia operasional fasilitas yang ada. Dukungan fiskal tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sektor.

Selain itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat diinstruksikan untuk membeli listrik dari fasilitas tambahan. Langkah ini menciptakan permintaan baru yang relatif stabil bagi produsen listrik berbasis batu bara. Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat posisi sektor ini dalam sistem energi nasional.

Dukungan pemerintah Amerika Serikat menunjukkan bahwa batu bara masih memiliki ruang dalam kebijakan energi negara tersebut. Meskipun transisi menuju energi bersih terus digalakkan, pertimbangan keamanan energi tetap menjadi prioritas. Kombinasi kebijakan ini turut memengaruhi sentimen global.

Prospek Permintaan dan Arah Pasar Global

Kenaikan harga batu bara mencerminkan interaksi antara kebijakan nasional dan kebutuhan energi global. Permintaan dari China dan dukungan Amerika Serikat menjadi dua faktor utama yang menopang pasar saat ini. Situasi ini menegaskan bahwa batu bara belum sepenuhnya tergantikan dalam waktu dekat.

Di tengah komitmen jangka panjang menuju energi bersih, realitas kebutuhan listrik masih mengandalkan sumber energi konvensional. Negara-negara besar mempertimbangkan stabilitas pasokan sebagai faktor strategis. Batu bara tetap menjadi pilihan karena ketersediaan dan infrastruktur yang telah mapan.

Pergerakan harga yang mendekati level tertinggi tahunan juga menunjukkan sensitivitas pasar terhadap kebijakan energi. Setiap ekspansi kapasitas atau insentif pemerintah dapat langsung tercermin pada harga. Hal ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara kebijakan publik dan dinamika komoditas.

Ke depan, arah harga batu bara akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan energi dan pertumbuhan ekonomi global. Selama permintaan listrik meningkat dan pasokan alternatif belum sepenuhnya stabil, batu bara masih memiliki peran penting. 

Momentum kenaikan ini menjadi cerminan bahwa pasar energi global bergerak secara adaptif menghadapi transisi yang kompleks.

Terkini