Kolak Pisang dan Biji Salak

Nikmati Kolak Pisang dan Biji Salak sebagai Menu Buka Puasa Sehat

Nikmati Kolak Pisang dan Biji Salak sebagai Menu Buka Puasa Sehat
Nikmati Kolak Pisang dan Biji Salak sebagai Menu Buka Puasa Sehat

JAKARTA - Kolak menjadi salah satu menu takjil yang paling digemari saat Ramadan. 

Rasa manis dan tekstur lembutnya membuat makanan ini cocok sebagai pelepas dahaga sekaligus sumber energi cepat. Dari sekian banyak varian, kolak pisang dan ubi serta kolak biji salak menjadi favorit masyarakat.

Rating Kesehatan Kolak Pisang dan Ubi

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menilai kolak pisang dan ubi cukup sehat dengan rating B. Meski ditambahkan gula, kolak ini tetap mengandung serat dari buah dan umbi. “Memang manis sih, tapi saya lihat ada pisang, ada ubi. Nah, itu kan penuh dengan serat,” ujarnya.

Pisang mengandung sekitar 89 kalori per 100 gram dengan karbohidrat sederhana yang cepat dicerna. Pisang juga kaya kalium dan vitamin B6, penting untuk fungsi otot dan saraf. Ubi jalar mengandung 86 kalori per 100 gram dengan karbohidrat kompleks dan serat lebih tinggi sehingga memberi rasa kenyang lebih lama.

Selain itu, ubi terutama yang berwarna oranye kaya beta-karoten atau provitamin A. Kandungan ini mendukung kesehatan mata dan daya tahan tubuh. Pisang praktis untuk energi cepat, sedangkan ubi lebih baik untuk kestabilan gula darah dan asupan serat harian.

Kolak Biji Salak, Perlu Perhatian Konsumsi

Untuk kolak biji salak, Menkes memberi rating C atau kurang sehat. Kandungan tepung dan gula yang tinggi membuatnya kurang ideal sebagai takjil buka puasa. Selain itu, kolak biji salak hampir tidak mengandung serat sehingga kurang optimal untuk pencernaan.

Masyarakat disarankan mengonsumsi biji salak dengan bijak, terutama bagi yang memiliki masalah gula darah. Pilihan ini tetap boleh dikonsumsi sesekali, namun tidak disarankan sebagai menu utama setiap hari. Dengan pemilihan porsi yang tepat, kolak tetap dapat dinikmati tanpa mengganggu kesehatan.

Kurma, Takjil Terbaik Versi Menkes

Takjil yang mendapat rating A adalah kurma karena kandungan seratnya tinggi dan gula alami. Kurma manis tetapi seluruhnya berasal dari sumber alami sehingga aman dikonsumsi. “Kurma manis sih, tapi ini serat semua, dan gulanya alami,” jelas Menkes.

Selain serat, kurma juga mengandung mineral dan vitamin yang mendukung energi dan fungsi tubuh. Konsumsi kurma saat berbuka membantu mengisi kembali cadangan energi secara seimbang. Menjadikan kurma sebagai takjil utama dapat mendukung kesehatan selama Ramadan.

Tips Memilih Takjil Sehat

Kolak pisang dan ubi menjadi pilihan baik untuk buka puasa jika dikonsumsi dengan porsi wajar. Hindari penambahan gula berlebihan agar nilai gizinya tetap terjaga. Selain itu, imbangi dengan konsumsi air putih dan makanan kaya protein untuk keseimbangan gizi harian.

Dengan memahami perbedaan kandungan nutrisi, masyarakat dapat menyesuaikan takjil dengan kebutuhan tubuh. Pilih makanan yang cepat memberi energi tetapi tetap mendukung kesehatan pencernaan. Konsumsi secara bijak akan membuat Ramadan lebih bermanfaat bagi tubuh dan daya tahan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index