JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kembali menegaskan komitmen strategisnya dalam pengadaan armada baru melalui pembelian 50 unit pesawat Boeing.
Langkah ini sejalan dengan kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat yang diteken awal tahun ini. Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas operasional maskapai pelat merah sekaligus mendukung modernisasi armada.
Pengendalian Penuh oleh Garuda Indonesia
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menekankan bahwa seluruh rencana pengadaan pesawat berada di bawah kendali penuh manajemen Garuda Indonesia. "Iya (Garuda Indonesia semua, tidak ada maskapai lain). Aku nggak membeli pesawatnya, mesti tanya ke Garuda Indonesia," ujarnya. Hal ini menunjukkan keputusan teknis dan strategi pengadaan menjadi wewenang eksklusif maskapai tersebut.
Dengan demikian, seluruh aspek mulai dari pemilihan tipe pesawat hingga jadwal pengiriman diserahkan sepenuhnya kepada tim internal Garuda. Tidak ada intervensi dari pihak lain, termasuk pemerintah dalam proses teknis pembelian. Strategi ini bertujuan memastikan armada baru sesuai dengan kebutuhan operasional maskapai.
Fokus untuk Regenerasi Boeing 737-800
Pengamat penerbangan Alvin Lie menilai bahwa pembelian 50 pesawat Boeing terutama ditujukan untuk regenerasi armada Boeing 737-800 yang sudah berusia tua. "Benar, tidak signifikan. Tanpa perjanjian ini pun Garuda Indonesia sudah waktunya untuk peremajaan," ujarnya. Armada lama yang menua memang memerlukan pembaruan agar operasional maskapai tetap aman dan efisien.
Alvin menambahkan, dampak pembelian ini terhadap iklim bisnis dan persaingan industri penerbangan nasional relatif minimal. Sifatnya lebih kepada pembaruan armada daripada ekspansi pasar. Dengan armada yang lebih modern, Garuda diharapkan meningkatkan kualitas layanan dan kehandalan penerbangan domestik maupun internasional.
Proyeksi Pengiriman dan Antrean Pesanan
Pengiriman pesawat baru diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Jika seluruh proses lancar, realisasi delivery kemungkinan baru dimulai dalam 3 hingga 4 tahun mendatang. Proses ini juga bergantung pada antrean pesanan global yang masih menumpuk di pabrik Boeing.
Sebagian pesawat akan dikirim bertahap sesuai jadwal, kecuali jika Garuda memutuskan membeli pesanan pihak lain yang sudah ada dalam daftar antrean. Kondisi backlog global membuat waktu tunggu pengiriman menjadi relatif panjang. Oleh karena itu, manajemen Garuda harus merencanakan strategi armada jangka menengah hingga panjang.
Tantangan Pendanaan untuk Modernisasi
Alvin Lie menyoroti tantangan pendanaan yang masih membayangi program peremajaan armada. Ia mempertanyakan dari mana sumber pembiayaan, mengingat Garuda Indonesia saat ini masih mengalami keterbatasan dana.
"Ada dari mana sumber pendanaan untuk peremajaan itu? Sedangkan untuk perawatan dan peremajaan mesin pesawat saja Garuda masih kesulitan pendanaan. Mungkin dengan perjanjian ini pemerintah akan suntik dana lagi," ujarnya.
Keberhasilan program pengadaan pesawat ini sangat bergantung pada skema pendanaan yang jelas. Efektivitas modernisasi armada tidak hanya terkait pengiriman pesawat, tetapi juga kesiapan finansial maskapai.
Kesepakatan dagang RI-AS membuka peluang, namun perhatian kini tertuju pada dampaknya terhadap kondisi keuangan Garuda Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.