JAKARTA - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya percepatan program cetak sawah rakyat seluas 101.000 hektare.
Seluruh jajaran, termasuk TNI, diminta bergerak cepat agar target rampung dalam waktu satu bulan. Kolaborasi ini dianggap sebagai langkah strategis menjaga ketahanan pangan nasional dan kedaulatan negara.
Amran menuturkan, “Waktunya tinggal satu bulan. Target kontrak cetak sawah 101 ribu hektare harus diselesaikan. Saya minta seluruh jajaran, termasuk TNI, bergerak cepat dan bekerja total. Ini penentu.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa komitmen pemerintah terhadap pangan tidak bisa ditunda.
Program ini mencakup sejumlah provinsi prioritas, mulai dari Kalimantan Tengah hingga Sulawesi Barat, termasuk wilayah Papua Selatan dan Kalimantan Utara. Perluasan areal tanam di berbagai daerah strategis diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi beras nasional. Semua pihak harus bekerja secara terpadu untuk menjamin keberhasilan program.
Percepatan Tugas Menghadapi Tantangan Iklim
Amran menilai percepatan cetak sawah tidak lepas dari kondisi iklim dunia yang semakin tidak menentu. Ancaman El Nino dan cuaca ekstrem memerlukan respons cepat agar produksi pangan tetap stabil. Ketahanan pangan dianggap sebagai faktor penentu stabilitas nasional dan kesejahteraan masyarakat.
“Kondisi iklim ekstrem bukan lagi pilihan, ini kewajiban kita untuk bersiap. Kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Karena itu TNI, pemerintah daerah, dan seluruh jajaran harus turun tangan. Ini perintah strategis untuk menjaga kedaulatan pangan,” jelas Amran.
Pernyataan ini menegaskan bahwa setiap langkah harus didasari kesadaran tanggung jawab terhadap bangsa.
Percepatan di lapangan juga memperlihatkan pentingnya koordinasi antarinstansi. Pihak militer, pemerintah daerah, dan aparat penyuluh harus bersinergi untuk memastikan kontrak cetak sawah berjalan lancar. Strategi ini diharapkan mampu mencegah dampak negatif dari perubahan iklim terhadap produksi pangan.
Pelajaran dari Krisis Pangan Global
Amran mengingatkan pengalaman krisis pangan global saat El Nino 2023-2024. Saat itu, beberapa negara membatasi ekspor beras, sehingga pasokan menjadi terganggu. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk besar tidak boleh terlalu bergantung pada impor.
Perluasan sawah baru menjadi salah satu kunci untuk memperkuat swasembada beras nasional. Langkah ini dipandang sebagai strategi preventif menghadapi potensi gangguan produksi. Dengan menambah luas lahan, ketahanan pangan dalam negeri lebih terjamin.
Krisis global juga menjadi pelajaran penting bagi petani dan pemerintah. Pemerintah berharap setiap langkah yang diambil mampu meminimalkan risiko ketergantungan impor. Kolaborasi lintas sektor di lapangan akan menjadi penentu keberhasilan program cetak sawah.
Apresiasi atas Keberhasilan Swasembada
Mentan juga memberikan apresiasi atas keberhasilan percepatan swasembada sebelumnya. Target tercapai lebih cepat dari rencana awal berkat kerja sama semua pihak. Hal ini membuktikan bahwa pencapaian ketahanan pangan merupakan hasil kerja kolektif.
“Tidak ada keberhasilan yang berdiri sendiri. Ini kerja kolaboratif. Babinsa, PPL, Kepala Dinas, Gubernur, Bupati, semua terlibat. Karena itu saya minta semangat yang sama untuk menyelesaikan target cetak sawah ini,” kata Amran. Pernyataan ini menunjukkan bahwa partisipasi semua pihak merupakan fondasi utama keberhasilan program.
Keberhasilan sebelumnya menjadi motivasi untuk menuntaskan target cetak sawah 101.000 hektare. Kolaborasi pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, dan petani diharapkan dapat mengulang kesuksesan yang sama. Semangat kerja kolektif menjadi kunci agar seluruh target tercapai tepat waktu.
Prioritas Bersama untuk Kedaulatan Pangan
Amran menekankan agar seluruh jajaran tidak lengah. Target penyelesaian kontrak cetak sawah hingga bulan depan harus menjadi prioritas utama. Pemanfaatan seluruh sumber daya yang tersedia menjadi langkah penting agar program berjalan efektif.
“Saya mohon ini diselesaikan dengan baik. Gerakkan semua kekuatan di lapangan. Nama Indonesia sudah baik di mata dunia, jangan ada celah. Satu bulan ini harus kita tuntaskan,” tegas Amran. Ucapan ini menegaskan urgensi program dan tekanan waktu yang menuntut kerja cepat.
Ketahanan pangan bukan sekadar isu lokal, tetapi juga menjadi indikator kedaulatan nasional. Dengan menyelesaikan cetak sawah, Indonesia memperkuat posisi sebagai negara yang mampu mandiri dalam pangan. Semua pihak harus bekerja optimal agar target tercapai dan keberhasilan program tercatat sebagai prestasi nasional.
Program ini menjadi bukti bahwa strategi kolaboratif lintas sektor mampu menghadapi tantangan global. Dengan partisipasi penuh TNI, pemerintah daerah, aparat penyuluh, dan petani, setiap hektare sawah baru menjadi investasi penting bagi masa depan pangan. Keseriusan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan adalah prioritas strategis pemerintah.